Showing posts with label Psikologi Perkembangan. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Perkembangan. Show all posts

Friday, March 16, 2012

Teori Perkembangan Psiko-Sosial Erik Erikson

Oleh: 
Anny Oktafirllyanti (Psi.2010), 
Itsna Falaqie Zakyanvitani (Psi.2010),
Ranita Ria Dwita (Psi.2010), Sefchullisan (Psi.2010)
dan Tya Aditya Irfan (Psi.2010)


Erik Erikson (1902-1994)

Erik Erikson lahir di Franfrurt, Jerman, pada tanggal 15 Juni 1902. Ia adalah ahli analisa jiwa dari Amerika, yang membuat kontribusi-kontribusi utama dalam pekerjaannya di bidang psikologi pada pengembangan anak dan pada krisis identitas. Ayahnya (Danish) telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Hingga akhirnya saat remaja, ibunya (yang seorang Yahudi) menikah lagi dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger.

Erikson kecil bukanlah siswa pandai, karena ia adalah seorang yang tidak menyenangi atmosfer sekolah yang formal. Ia oleh orang tua dan teman-temannya dikenal sebagai seorang pengembara hingga ia pun tidak sempat menyelesaikan program diploma. Tetapi perjalanan Erikson ke beberapa negara dan perjumpaannya dengan beberapa penggiat ilmu menjadikannya seorang ilmuwan sekaligus seniman yang diperhitungkan. Pertama ia berjumpa dengan ahli analisa jiwa dari Austria yaitu Anna Freud. Dengan dorongannya, ia mulai mempelajari ilmu tersebut di Vienna Psychoanalytic Institute, kemudian ia mengkhususkan diri dalam psikoanalisa anak. Terakhir pada tahun 1960 ia dianugerahi gelar profesor dari Universitas Harvard.

Setelah menghabiskan waktu dalam perjalanan panjangnya di Eropa Pada tahun 1933 ia kemudian berpindah ke USA dan kemudian ditawari untuk mengajar di Harvad Medical School. Selain itu ia memiliki pratek mandiri tentang psikoanalisis anak. Terakhir, ia menjadi pengajar pada Universitas California di Berkeley, Yale, San Francisco Psychoanalytic Institute, Austen Riggs Center, dan Center for Advanced Studies of Behavioral Sciences.

Selama periode ini Erikson menjadi tertarik akan pengaruh masyarakat dan kultur terhadap perkembangan anak. Ia belajar dari kelompok anak-anak Amerika asli untuk membantu merumuskan teori-teorinya. Berdasarkan studinya ini, membuka peluang baginya untuk menghubungkan pertumbuhan kepribadian yang berkenaan dengan orangtua dan nilai kemasyarakatan.

Keinginannya untuk meneliti perkembangan hidup manusia berdasarkan pada pengalamannya ketika di sekolah. Saat itu anak-anak lain menyebutnya Nordic karena ia tinggi, pirang, dan bermata biru. Di sekolah grammar ia ditolak karena berlatar belakang Yahudi.

Buku pertamanya adalah Childhood and Society (1950), yang menjadi salah satu buku klasik di dalam bidang ini. Saat ia melanjutkan pekerjaan klinisnya dengan anak-anak muda, Erikson mengembangkan konsep krisis perasaan dan identitas sebagai suatu konflik yang tak bisa diacuhkan pada masa remaja. Buku-buku karyanya antara lain yaitu: Young Man Luther (1958), Insight and Responsibility (1964), Identity (1968), Gandhi's Truth (1969): yang menang pada Pulitzer Prize and a National Book Award dan Vital Involvement in Old Age (1986).

Tahap Perkembangan Hidup Manusia
Apakah perkembangan psikososial itu?

Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psikososial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.

Erikson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada delapan tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan perasaan tidak selaras.

Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan.

Teori Perkembangan Rentang Hidup Erikson

Teori Erik Erikson melengkapi analisis Bronfenbrenner terhadap konteks sosial di mana akan tumbuh dan orang-orang yang penting bagi kehidupan anak. Erikson (1902-1994) mengemukakan teori tentang perkembangan seseorang melalui tahapan.

Delapan Tahap Perkembangan Manusia

Dalam teori Erikson (1968), delapan tahap perkembangan akan dilalui oleh orang di sepanjang rentang kehidupannya. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang dihadapi oleh individu yang mengalami krisis. Menurut Erikson, masing-masing krisis tidak bersifat katastropik, tetapi merupakan titik balik dari kerawanan dan penguatan potensi. Semakin sukses seseorang mengatasi krisisnya, semakin sehat psikologi individu tersebut. Masing-masing tahap punya sisi positif dan negatif.

Kepercayaan versus ketidakpercayaan merupakan tahap psikososial yang pertama yaitu pada saat berumur 0-1 tahun. Pada tahap ini bayi didorong untuk mempercayai dan tidak mempercayai orang-orang yang ada di sekitarnya. Bayi sepenuhnya mempercayai keluarganya, tapi dia akan tidak percaya dengan orang asing, benda asing dan berbagai hal yang asing. Oleh karena itu bayi akan menangis jika digendong dengan orang yang tidak dikenalnya dan juga saat menghadapi hal-hal asing. Oleh karena itu tugas yang dibutuhkan pada tahap ini adalah menumbuhkan rasa percaya tanpa harus menghilangkan kemungkinan rasa ketidakpercayaan itu. Rasa percaya akan terbina dengan baik bila kebutuhan oralis bayi terpenuhi, seperti tidur dengan nyenyak, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu serta dapat membuang kotoran dengan sepuasnya.

Otonomi versus perasaan malu dan ragu merupakan tahap psikologis Erikson kedua. Tahap ini ada pada umur 2-3 tahun. Tahap ini terjadi pada masa bayi akhir (late infancy) dan masa belajar berjalan (toddler). Pada masa ini anak sudah bisa berdiri sendiri dalam arti melakukan beberapa hal dengan sendirinya tanpa bantuan orang tuanya, tetapi di pihak lain anak merasa ragu dan malu dengan apa yang diperbuatnya. Oleh karena itu mereka suka meminta pertolongan dan persetujuan orang tua mereka. Tugas orang tua pada tahap ini adalah tidak perlu memaksa anak untuk terlalu berani dan tidak juga mematikan rasa keberanian itu. Jadi yang dibutuhkan adalah keseimbangan.

Inisiatif versus rasa bersalah merupakan tahap psikologis Erikson ketiga, terjadi pada umur 4-5 tahun. Pada tahap ini anak sudah lebih banyak memiliki kecakapan. Kecakapan-kecakapan inilah yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, namun sayangnya karena kemampuan anak masih terbatas terkadang mereka melakukan kesalahan dan ini membuat mereka merasa bersalah serta kehilangan minat untuk melakukan banyak hal dalam beberapa waktu. Masa-masa bermain adalah masa dimana anak belajar dan berani menerima tantangan dari luar.

Upaya versus inferioritas merupakan tahap psikologis Erikson keempat yaitu pada umur 6-11 tahun. Pada tahap ini anak semakin aktif. Mereka sangat bersemangat untuk mengetahui dunia luar serta berbuat sesuatu, namun sayang karena masih banyaknya kekurang yang dimiliki, mereka terkadang berhadapan dengan hambatan, kesukaran bahkan kegagalan. Hal-hal inilah yang membuat mereka menjadi rendah diri. Pada tahap ini pula, yang semula hanya sebagai sebuah fantasy bagi mereka, anak-anak mulai merealisasikannya.

Identitas versus kekacauan identitas, identitas merupakan tahap psikologi Erikson kelima. Terjadi pada individu saat berumur 12-20 tahun. Pada masa ini kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh seorang anak sudah lebih matang. Mereka berusaha untuk membentuk dan memeperlihatkan identitasnya. Dorongan untuk memperlihatkan identitas terkadang dilakukan dengan cara yang ekstrim atau berlebihan. Hal ini membuat mereka melakukan sesuatu yang dianggap menyimpang oleh lingkungan sekitar. 

Keintiman versus isolasi merupakan tahap psikologis Erikson keenam. Tahap ini terjadi pada masa dewasa awal yaitu pada umur 21-40 tahun. Pada tahap ini terjadi longgarnya hubungan dengan kelompok sebaya karena ada dorongan untuk dekat dengan orang yang sepaham. Selain itu juga terdapat dorongan untuk lebih intim dengan orang-orang tertentu. Ini adalah jenjang yang dikatakan Erikson sebagai jenjang dimana seseorang ingin dekat dengan orang lain dan menghindar dari yang namanya menyendiri. Tapi hasilnya akan berbeda pada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membuat relasi dengan orang lain. Mereka ini akan lebih menarik diri dan mengisolasi dirnya dari orang-orang sekitar.

Generativitas versus stagnasi merupakan tahap psikologis Erikson ketujuh. Tahap ini terjadi pada masa dewasa pertengahan, sekitar 41-65 tahun. Pada tahap ini manusia sudah mencapai puncak dalam pengembangan diri mereka sendiri. Tugas yang harus dicapai pada tahap ini adalah mengabdikan diri untuk generasi muda. Pada masa ini timbul rasa untuk melahirkan sesuatu dan tidak berbuat apa-apa. Bagi mereka yang berbuat sesuatu mereka akan memperdulikan orang sekitar. Sedangkan bagi orang yang tidak berbuat apa-apa mereka cenderung tidak memperdulikan orang sekitarnya.

Integritas versus keputusasaan merupakan tahap psikologis Erikson yang kedelapan. Terjadi pada umur 65 ke atas. Pada masa ini individu sudah memiliki integritas pribadi. Semua yang dikaji dan ditelaah oleh dirinya menjadi miliki pribadi. Pribadi yang masih memiliki sebuah keinginan untuk melakukan sesuatu namun sudah tidak mampu melakukannya lagi karena masalah usia, mereka akan merasa putus asa. Tidak tercapainya sebuah keinginan dan kemunduran kemampuan menyebabkan terjadinya rasa keputusasaan. Menurut Erikson, individu yang sudah sampai pada tahap ini sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dengan baik. Tugas pada tahap ini adalah integritas dan menghilangkan rasa kekecewaan.  

Mengevaluasi Teori Erikson

Teori Erikson memaparkan beberapa tugas sosioemosional penting dan meletakkannya dalam kerangka perkembangan. Konsep identitasnya terutama membantu untuk memahami masa remaja akhir dan mahasiswa. Secara keseluruhan teorinya merupakan faktor penting dalam membentuk pandangan kita sekarang tentang perkembangan manusia sebagai perkembangan sepanjang hayat, bukan sekedar perkembangan di masa kanak-kanak.

Teori Erikson tidak luput dari kritik. Beberapa pakar percaya bahwa tahapannya terlalu kaku. Bernice Neugarten (1988) mengatakan bahwa identitas, intimasi, independensi dan banyak aspek perkembangan sosioemosional lainnya tidak muncul secara berurutan secara rapi dalam interval usia tertentu. Aspek-aspek itu merupakan isu penting yang ada di sepanjang hidup kita. Meskipun banyak riset telah dilakukan terhadap tahap-tahap Erikson (seperti identitas), seluruh cakupan teorinya (seperti apakah delapan tahap itu selalu terjadi secara berurutan bagi beberapa individu (terutama wanita), intimasi mendahului identitas, atau berkembang secara bersamaan.

Perbandingan Sigmund Freud

Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan kunstruk teori psikososialnya dari psiko-analisa Freud. Kalau Freud memapar teori perkembangan manusia hanya sampai masa remaja, maka para penganut teori psiko-analisa (freudian) akan menemukan kelengkapan penjelasan dari Erikson, walaupun demikian ada perbedaan antara psikoseksual Freud dengan psikososial Erikson. Beberapa aspek perbedan tersebut dapat dilihat di bawah ini

Freud
Erikson
Peranan/fungsi id dan ketidaksadaran sangat penting.
Peran/fungsi ego lebih ditonjolkan, yang berhubungan dengan tingkah laku yang nyata.
Hubungan segitiga antara anak, ibu dan ayah menjadi landasan yang terpenting dalam perkembangan kepribadian.
Hubungan-hubungan yang penting lebih luas, karena mengikutsertakan pribadi-pribadi lain yang ada dalam lingkungan hidup yang langsung pada anak. Hubungan antara anak dan orang tua melalui pola pengaturan bersama (mutual regulation).
Orientasi patologik, mistik karena berhubungan dengan berbagai hambatan pada struktur kepribadian dalam perkembangan kepribadian.
Orientasinya optimistik, kerena kondisi-kondisi dari pengaruh lingkungan sosial yang ikut mempengaruhi perkembang kepribadian anak bisa diatur.
Timbulnya berbagai hambatan dalam kehidupan psikisnya karena konflik internal, antara id dan super ego.
Konflik timbul antara ego dengan lingkungan sosial yang disebut: konflik sosial.



Sumber: 

Santrock, J. W, University of Texas at Dallas. [2010]. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.

Sarwono, S. W. [2002]. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

Alim, Muhammad. B. [2010, 3 September]. Teori Erikson. Diakses pada 18 Februari 2011 dari http://www.psikologizone.com/teori-erikson.

Teori Perkembangan Moral Kohlberg



Oleh:
 Nida Ulfia (Psi.2010), Msy Puji Tsalatsih M.I (Psi.2010), 
Aghni Ziyan Qur'ani (Psi.2010), Faatimah Amira (Psi.2010),
dan Siska Rizkiana (Psi.2010)

Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958  yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.

Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.


Kohlberg menggunakan ceria-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih kuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya

Lawrence Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. Dalam wawancara, anak-anak diberikan serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya menghadapi dilema-dilema moral. Bagaimana anak-anak dalam menyikapi setiap cerita yang dilakukan oleh masing-masing tokoh dalam cerita yang disampaikan oleh kohlberg. Berikut ini adalah salah satu cerita dilema Kohlberg yang paling populer:

Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker khusus. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Biaya membuat obat ini sangat mahal, tetapi sang apoteker menetapkan harganya sepuluh kali lipat lebih mahal dari pembuatan obat tersebut. Untuk pembuatan satu dosis kecil obat ia membayar 200 dolar dan menjualnya 2000 dolar. Suami pasien perempuan, Heinz, pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi ia hanya bisa mengumpulkan 1000 dolar atau hanya setengah dari harga obat tersebut. Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker bersedia menjual obatnya lebih murah atau memperbolehkannya membayar setengahnya kemudian. Tetapi sang apoteker berkata, “Tidak, aku menemukan obat, dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu.” Heinz menjadi nekat dan membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya.

Cerita ini adalah salah satu dari sebelas cerita yang dikembangkan oleh Kohlberg untuk menginvestigasi hakekat pemikiran moral. Setelah membaca cerita, anak-anak menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral. Haruskah Heinz mencuri obat? Apakah mencuri obat tersebut benar atau salah? Mengapa? Apakah tugas suami untuk mencuri obat bagi istrinya kalau ia tidak mendapatkannya dengan cara lain? Apakah apoteker memiliki hak  untuk mengenakan harga semahal itu walaupun tidak ada suatu aturan hukum yang membatasi harga? Mengapa atau mengapa tidak?


Berdasarkan penalaran di atas kohlberg kemudian merumuskan tiga tingkat perkembangan moral, yang masing-masing tahap ditandai oleh dua tahap. Konsep kunci dari teori Kohlberg, ialah internalisasi, yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.

·      Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional
Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal. Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris.

Tahap 1 : Orientasi hukuman dan ketaatan.
Tahap ini merupakan tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.

Tahap 2: Individualisme dan tujuan
Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.

·      Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat. Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.

Tahap 3: Norma-norma interpersonal.
Pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini, sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau laki-laki yang baik. Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; 'mereka bermaksud baik.

Tahap 4: Moralitas sistem sosial.
Pada tahap ini, pertimbangan moral didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban. Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

·      Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional
Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.

Tahap 5: Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (kontrak sosial atau Utilitas dan Hak Individual)
Pada tahap ini seseorang mengalami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari hukum penting bagi masyarakat, tetapi nilai-nilai seperti kebebasan lebih penting dari pada hukum. Dalam tahap lima, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut - 'memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak'? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang.[8] Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.

Tahap 6: Prinsip-prinsip etis universal.
Pada tahap ini seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. Dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant).

Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini.

Kritik terhadap Teori Perkembangan Kohlberg

Teori Kohlberg yang provokatif ini juga mendapat penentangan (Turiel, 1998). Salah satu kritik yang kuat diarahkan pada ide bahwa pemikiran moral tidak selalu memprediksi perilaku moral. Kritik itu menyatakan bahwa teori Kohlberg terlalu banyak menekankan pada pemikiran moral dan tidak memberi perhatian yang cukup pada perilaku moral. Alasan moral terkadang dapat menjadi dalih untuk perilaku yang tak bermoral. Pejahat perbankan dan presiden AS bisa saja mendukung nilai-nilai moral yang luhur, tetapi perilakunya terbukti tidak bermoral. Tak seorangpun menginginkan suatu bangsa yang berada pada tahap 6 dalam teori Kohlberg yang tahu apa yang benar tetapi melakukan apa-apa yang salah. Salah satu kritik lainnya terhadap teori Kohlberg adalah bahwa teori tersebut terlalu menekankan pada keadilan dan mengabaikan norma yang lainnya. Konsekuensinya, teori itu tidak akan menilai secara adekuat orang yang menggunakan aspek moral lainnya dalam bertindak. Carol Gilligan berargumentasi bahwa teori Kohlberg terlalu androsentrik.Teori Kohlberg semula dikembangkan berdasarkan penelitian empiris yang menggunakan hanya partisipan lelaki; Giligan berargumentasi bahwa hal tersebut membuat tidak adekuatnya teori itu dalam menggambarkan pandangan seorang perempuan. Walaupun penelitian secara umum telah menemukan tidak adanya perbedaan pola yang signifikan antar jenis kelamin, teori perkembangan moral dari Gilligan tidak memusatkan perhatiannya pada norma keadilan. Ia mengembangkan teori penalaran moral alternatif berdasarkan norma perhatian.

Psikolog lain mempertanyakan asumsi bahwa tindakan moral dicapai terutama oleh penalaran formal. Salah satu kelompok yang berpandangan demikian, social intuitionists, mengemukakan bahwa orang sering membuat keputusan moral tanpa mempertimbangkan nilai-nilai seperti keadilan, hukum, hak asasi manusia, dan norma etika yang abstrak. Berdasarkan hal ini, argumen yang telah dianalisis oleh Kohlberg dan psikolog rasionalist lainnya dapat dianggap hanya merupakan rasionalisasi dari keputusan intuitif. Ini berarti bahwa penalaran moral kurang relevan terhadap tindakan moral dibanding apa yang dikemukakan oleh Kohlberg.

Sumber: 
Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana
Santrock, J.W. 2002.  Life SpanDevelopment. Jakarta: Erlangga